Aktivitas
Pemberdayaan
Microfinance
pemberdayaan
Oleh: Dr. Astriana Baiti Sinaga MS., Dosen dan Aktifis Perempuan
SIAPAKAH yang disebut Ibu? Makhluk Allah yang disebut perempuan serta
dianugerahkan di dalam fisiknya sebuah rahim, sebagai sumber kasih
sayang. Karena kasih sayang itulah peran ibu sangat identik dengan
peradaban. Pada seorang ibu tentunya dalam siklus hidupnya akan melekat
multi peran yakni; sebagai istri kalau sudah menikah, sebagai ibu,
ketika sudah dianugerahkan anak, sebagai agent of change ketika menjadi
bagian dari anggota masyarakat, dan tentunya sebagai makhluk tuhan
karena Allah Zat yang menciptakannya.
Berkaitan dengan peran perempuan sebagai ibu, maka peran ini memiliki
peran yang sangat signifikan untuk kelangsungan kehidupan masyarakat.
Tanpa ibu tidak akan ada populasi manusia, tidak ada sebuah bangsa.
Tidak ada negara dan tidak akan ada peradaban manusia. Peradaban
tentunya akan sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang
berkualitas. Anak berkualitas tentunya lahir dari ibu yang berkualitas.
Dalam fakta sejarah di dalam Islam misalnya membuktikan sosok Khadijah,
ibu teladan sepanjang sejarah manusia. Yang melahirkan seorang putri,
Fatimah Az zahra tumbuh menjadi sosok ibu sukses mendidik anaknya Hasan
dan Husen. Begitu pula sosok Hajar, seorang perempuan dari kalangan
kelas bawah namun memiliki kualitas religius dalam kondisi kritis dan
sangat terbatas, namun mampu melahirkan sosok anak yang berkualitas.
Begitu juga di balik kesuksesan pemimpin dunia saat ini yang banyak
mengisahkan bahwa kesuksesan hari adalah berkat dan peran ibu yang
mendidiknya sejak kecil.
Siklus kehidupan generasi yang tampak dari contoh-contoh kisah ibu
yang sukses tadi, menujukkan alur yang sejalan dan berkelanjutan bahwa
ibu yang berkualitas menurunkan bibit generasi kebaikan sepanjang
sejarahnya. Begitulah ukiran yang dipahat oleh seorang ibu yang tangguh
akan melahirkan generasi yang tangguh juga. Sehingga kita berani
mengatakan bahwa peran seorang ibu adalah peran yang diwarnai
tanggungjawab yang besar karena menentukan nasib sebuah bangsa dan
peradaban.
Peran seorang ibu adalah profesi yang sangat mulia dan bergengsi,
yang tidak bisa dinilai dengan lembaran rupiah, dollar ataupun mata uang
apapun. Namun, ibu akan mengukir lembaran sejarah hidup manusia, bangsa
bahkan peradaban dunia.
Untuk melahirkan seorang ibu tentunya
membutuhkan perspektif pemberdayaan perempuan yang benar yang tentunya
sesuai dengan tatanan nilai agama namun tetap memahami perkembangan
zaman di mana perempuan tersebut hidup. Artinya dibutuhkan pemberdayaan
yang membuat perempuan tersebut tetap dalam kefitrahannya namun cerdas,
kreatif, dinamis, dan visioner dalam menjalankan segala aktivitasnya,
khususnya peran strategisnya sebagai ibu. Pertanyaan kita selanjutnya
adalah bagaimana paradigma pemberdayaan perempuan pada hari ini?
Ibu, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya adalah berjenis
kelamin perempuan. Artinya membicarakan ibu berarti membicarakan
perempuan. Bagaimana paradigma pemberdayaan perempuan hari ini
memerlukan sebuah jawaban sebagai renungan kita di hari ibu ini.
Membicarakan perspektif pemberdayaan perempuan di Indonesia tentunya
tidak bisa dilepaskan dengan kesepakatan-kesepakatan internasional.
Indonesia sebagai negara yang terikat dengan konvensi cedaw, memiliki
kewajiban untuk menjadikan konvensi cedaw resmi sebagai sumber hukum
formal. Di mana berkedudukan setingkat dengan undang-undang. Selanjutnya
negara memberikan komitmen, mengikatkan diri untuk menjamin melalui
peraturan perundang-undangan, kebijakan nasional dan daerah, program,
langkah tindak lanjut untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia
yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Yakni dengan melalui
perwujudan keadilan dan kesetaraan kedudukan dalam akses, partisipasi,
kontrol, penikmat manfaat yang sama dari hasil-hasil pembangunan. Salah
satu bentuk perwujudan makna ratifikasi konvensi cedaw bagi pemerintah
Indonesia melalui UU No 7/1984, artinya pemerintah Indonesia concern dan
mengikatkan diri untuk terjaminnya Pengarusutamaan Gender (PUG) dan
Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) melalui berbagai peraturan
perundang-undangan, kebijakan, program, langkah tindak untuk mewujudkan
KKG serta terhapusnya segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.
BERSAMBUNG
Sumber: Humas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Bali
(24/11)- “Kementerian PP dan PA mendukung dan mendorong tumbuhnya
wirausaha-wirausaha baru yang dimulai dari produk-produk yang dihasilkan
dan dikerjakan di rumah yang dikenal sebagai industri rumahan yang
menyentuh perempuan untuk mengerjakan”, kata Yohana saat membuka Rapat
Kerja Nasional Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) ke XXV Tahun
2014 di Sanur, Bali. Dalam kiprahnya IWAPI sudah memberikan akses,
partisipasi, kontrol dan manfaat di bidang bisnis. Tentunya perhatian
dan komitmen ini sangat membantu pemerintah Kabinet Kerja untuk
meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi prioritas
Agenda Nawa Cita. Untuk itu, kabinet kerja mendukung Perempuan Pengusaha
Indonesia untuk meningkatkan perekonomian Bangsa.
Yohana mengatakan pengembangan industri rumahan melalui pemberdayaan
perempuan dalam sistem ekonomi rumah tangga merupakan bagian dari
integrasi agenda prioritas pemerintah dalam kabinet kerja. Melalui
Industri rumahan ini, perempuan dapat berproduksi tanpa harus
meninggalkan rumah, bahkan industri rumahan yang maju dapat menyerap
tenaga kerja dan menciptakan lapangan kerja. Ditambah lagi dengan adanya
kemajuan teknologi, maka produk industri rumahan ini dapat dipasarkan
dari rumah melaui internet. Dari jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah
(UMKM), ditengarai 40% diantaranya adalah pengusaha perempuan.
Pengembangan usaha yang mereka lakukan telah banyak memberikan
kontribusi bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan anak melalui
strategi pengarusutamaan gender senantiasa mendorong dan mendukung
perempuan untuk terus berkarya, memanfaatkan potensi yang ada, baik di
rumah maupun di luar rumah, karena yang harus diperhatikan adalah
kreativitas, keterampilan dan bakat individu.
“Saya berharap Rakernas IWAPI ini dapat menghasilkan terobosan dan
strategi baru dalam pengembangan UMKM. Hal ini Sesuai dengan Nawa Cita
meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan
sejahtera karena sebentar lagi kita sudah harus siap menghadapi
persaingan bebas dunia, bahkan sudah harus siap dengan ASEAN 2015. Saya
juga berharap Rakernas IWAPI dapat langsung menyentuh pokok-pokok
persoalan yang dihadapi UMKM dan mendapat solusi pemecahan masalahnya.
Saya yakin, IWAPI pasti mampu membuat inovasi dan terobosan, sehingga
UMKM diakui oleh dunia”, pungkas Menteri. (ESN)
SELATPANJANG (HK)– Kaum perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam
pembangunan. Baik dalam proses penularan program kesejahtaraan
masyarakat, kesehatan maupun pendidikan. Menyikapi hal itu, Pemkab
Kepulauan Meranti menjadikan program pemberdayaan kaum perempuan menjadi
salah satu prioritas dalam anggaran pembangunan tahun 2014 ini.
Ketua Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Kepulauan Meranti Dra. Nirwana Sari Irwan mengungkapkan hal ini, Selasa (13/1) menyikapi terbatasnya kegiatan-kegiatan pemberdayaan perempuan di Meranti. Menurutnya, banyak program yang bisa dimaksimalkan dalam upaya memberdayakan kaum perempuan Meranti. Namun sayang, terbatasnya alokasi anggaran menyebabkan kegiatan pemberdayaan perempuan yang kita lakukan, tidak mampu menyentuh semua lini.
"Bayangkan saja, dengan jumlah kaum perempuan yang begitu besar bila diberdayakan secara maksimal, akan menjadi kekuatan yang sangat luar biasa. Tidak hanya dari sisi pembangunan peningkatan kesejahteraan keluarga, tapi disemua lini” ungkap Nirwana Sari.
Saat ini lanjut Nirwana, program-program pemberdayaan perempuan terfokus dalam kegiatan-kegiatan yang relatif kecil melalui PKK, maupun organisasi-organisasi perempuan. Hal ini tentunya sangat terbatas, pada komunitas kaum perempuan yang aktif di organisasi.
Sementara, ribuan kaum perempuan lainnya yang berada diluar koridor tak terjangkau. Kaum perempuan dipedesaan bergerak sendiri tanpa sentuhan pembinaan. Kondisi ini menjadikan potret kaum perempuan pedesaan di Meranti, seakan-akan terbiarkan tanpa sentuhan. Padahal, kaum perempuan di pedesaan memainkan peran yang sangat besar disemua lini kehidupan sosial dan ekonomi.
Bukti konkritnya, hampir 40% dari petani-petani di Rangsang barat dan Rangsang Pesisir melibatkan kamum perempuan. Belum lagi para buruh perkebunan, pertanian yang setiap harinya beraktifitas menggerakkan roda ekonomi di pedesaan. Ini semua menjadi bukti betapa besar peran yang dimainkan perempuan-perempuan Meranti.
“Minimnya sentuhan pembinaan wawasan, menyebabksn kaum perempuan Meranti di pedesaan tenggelam dalam potret kemiskinan masyarakat pedesaan. Kaum perempuan seakan-akan dianggap menjadi beban, yang menjadikan potret kemiskinan semakin kental. Padahal, dalam realitasnya kaum perempuan di pedesaan turut tungkus lumus membangun kemandirian ekonomi keluargannya," beber Ketua GOW Meranti yang juga Penggerak PKK kabupaten Kepulauan Meranti.
Untuk itu urai Nirwana, Pemkab Kepulauan Meranti harus menjadikan prorgam pemberdayaan perempuan sebagai salah satu sasaran prioritas pembangunan. Terbatasnya alokasi anggaran, menyebabkan instrumen pembinaan dan pemberdayaan yang di lakukan berbagai organisasi wanita di Meranti maupun PKK, tidak mampu menyentuh semua lini.
Dan yang lebih penting lagi, sebagai bagian dari modal pembangunan harusnya perogram pemberdayaan perempuan Meranti ini menjadi tanggung jawab semua satker. “Kita yakin, bila potensi perempuan Meranti ini diberdayakan secara maksimal, diberikan pembinaan dan ruang gerak yang lebih besar akan menjadi sumber kekuatan yang luar biasa. Meskipiun secara fisik lemah, namun dari sisi potensi kemauan, ketekunan, kegigihan dan komitmen perempuan Meranti memiliki kekuatan yang sangat besar. Persoalanya sekarang, selama ini tidak pernah disentuh dengan pembinaan dan pemberdayaan yang benar-benar profesional” tandas Nirwana sari yang juga Duta Sagu Meranti ini.(rus)
Pemberdayaan berasal dari kata “daya” yang artinya kekuatan. Kata ini
diimbuhi kata “ber” jadi berdaya,
yang artinya punya kekuatan/kemampuan sendiri. Kata “berdaya” diimbuhi kata “pem”-“an” menjadi pemberdayaan, yang artinya membuat seseorang/sesuatu menjadi
kuat/berdaya hingga mempunyai kemampuan/kekuatan sendiri.
Kata “Pemberdayaan”
sebenarnya bisa dikaitkan dengan apa
saja, tetapi pada lazimnya kata ini dikaitkan dengan kata masyarakat, menjadi “Pemberdayaan Masyarakat” yang artinya,
proses pembangunan dimana masyarakat berinisiatif memulai proses kegiatan
sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi sendiri. (Wikipedia).
Jika dipikir-pikir, tidak mungkin seluruh
masyarakat langsung mempunyai inisiatif secara spontan bersama-sama untuk
memajukan diri mereka sendiri, tanpa adanya stimulant (rangsangan) apapun. Adalah
suatu sunnatullah, jika aksi-reaksi
personal atau masyarakat sangat tergantung adanya stimulasi dari luar dirinya
sendiri. Stimulasi itu dapat berupa kejadian alam, kejadian sosial atau
informasi yang berasal dari luar yang dapat dijadikan sumber inspirasi.
Begitu juga dengan Pola perubahan sosial,
biasanya ada agen sosial (individu) yang menginisiatif anggota masyarakat
lainnya, atau adanya media dari luar, yang menstimulasi satu atau beberapa
anggota masyarakat, sehingga mereka bergerak untuk memberdayakan dirinya, menuju
perubahan sosial yang lebih baik.
Peran Kaum
Ibu
Secara kodrati, sebenarnya lelaki dan
perempuan diberikan kelebihan yang berbeda-beda. Lelaki punya kelebihan fisik
dan mobilitas di luar rumah. Tak kalah dari kaum lelaki, perempuan mempunyai
kelebihan lainnya, yaitu kecerdasan komunikatif. Hal ini dapat dilihat secara empiric,
bahwa tali penghubung antar rumah tangga dalam masyarakat, sangat ditentukan
oleh pertemuan antara ibu-ibu. Baik di forum warga (seperti kegiatan PKK,
arisan, dll), pengajian, sampai forum ‘rasan-rasan’.
Dalam kehidupan budaya Jawa keseharian,
ketika ada sebuah keluarga “nduwe gawe”, kaum ibu punya peran vital. Tak hanya di
bidang konsumsi, tetapi juga berperan vital di “belakang layar”. Kaum ibu mudah
digerakkan, untuk mengajak ibu-ibu lainnya menghadiri kegiatan. Tetapi, Peran kaum
ibu ini seringkali dipandang sebelah mata.
Tak hanya pada kehidupan sosial, kaum ibu
juga punya kelebihan lain, yaitu dalam pengaturan keuangan. Dalam kehidupan
sehari-hari, kaum ibu rata-rata mempunyai keunggulan dalam mengatur uang
masuk-keluar daripada kaum bapak-bapak. Sehingga, secara umumnya, dalam
kehidupan keluarga, ibu berperan sebagai “bendahara” keluarga. Lazimnya,
penghasilan yang didapatkan dari keluarga diserahkan kepada pihak ibu, dan
pihak ibu mengatur, seberapa uang yang diterimanya, untuk apa, targetnya untuk
apa, dan berapa savingnya, ia sudah kalkulasi semuanya. Sehingga, ia akan
keberatan jika uang yang dibawah kontrolnya, digunakan untuk keperluan tidak
penting, seperti uang rokok.
Kaum ibu punya jiwa setiti, rapi, dan
terkontrol, dalam urusan rumah tangga. Di masyarakat lapis bawah, dimana banyak
keluarga mendirikan usaha keluarga (home
industry) kecil, ibu berperan sentral. Mereka rata-rata dapat mengetahui
dan mengendalikan seberapa laba yang mereka hasilkan, dan seberapa yang
semestinya mereka keluarkan untuk belanja barang. Tak sedikit kasus, dimana ada
home industry milik keluarga
tiba-tiba colaps, karena
ketidakhadiran seorang istri, karena meninggal atau karena sebab lainnya.
Aktualisasi Potensi
Kaum Ibu
Sebagaimana fitrahnya, kaum Ibu ternyata
diberi potensi (mazidah) sangat besar
dari Allah. Sangat mubazir, jika besarnya potensi tersebut disia-siakan begitu
saja. Akibatnya, banyak perkumpulan ibu-ibu tidak diarahkan menuju tindakan
bermakna, tetapi diarahkan ke hal-hal negative, seperti tindakan rasan-rasan. Makanya, banyak aktivis
dari kaum ibu yang mengarahkan mereka membentuk arisan bersama, perkumpulan
ibu-ibu PKK sampai pengajian ibu-ibu di masjid.
Potensi dari kaum ibu ini juga dapat
diarahkan menuju perbaikan ekonomi. Mengingat beberapa potensi yang mereka
miliki, 1) punya jaringan yang lebih intens
dalam masyarakat dimana mereka hidup. 2) punya skill komunikatif yang lebih
baik, 3) punya skill manajemen keuangan yang lebih hebat dibanding kaum
bapak-bapak. Potensi ini tidak hanya dimiliki oleh kaum ibu-ibu di Indonesia,
tetapi di Negara-negara berkembang lainnya, seperti India, Brazil, Srilanka,
Bangladesh, dst.
Mengingat potensi besar ini, seorang ekonom
Bangladesh, Muhammad Yunus, mengembangkan system perbankan, ditujukan untuk
mengembangkan usaha yang dikelola oleh para kaum ibu di negaranya, dengan nama
Grameen Bank. System ini berhasil menginisasi kaum ibu, kemudian direplikasi oleh
para aktivis perempuan di Negara-negara berkembang lainnya, termasuk di
Indonesia.
Kelebihan
Memberdayakan Kaum Ibu
Memberdayakan kaum ibu lebih mudah
memberdayakan kaum Bapak. Karena pada umumnya, siklus kehidupan kaum ibu lebih
banyak berinteraksi di tengah masyarakat daripada siklus kehidupan bapak. Lazimnya,
lelaki yang bekerja, pagi sampai sore hari mereka bekerja, sore sampai malam,
digunakan untuk istirahat atau ‘maen’
ke beberapa sobatnya. Kaum lelaki lebih menyukai apa yang jadi pilihan mereka pribadi.
Sehingga banyak waktu terbuang untuk memenuhi hasrat selera (hoby) mereka,
seperti memancing, dangdutan, sampai
nonton bola. Berbeda dengan kaum ibu, mereka mudah digerakkan ke perkumpulan.
Memberdayakan perempuan di desa-desa, secara
fakta, mempunyai keberhasilan yang relative lebih tinggi daripada memberdayakann
para pengusaha menengah. Dalam kasus Grameen Bank, rata-rata pengembalian
modal, dari pengusaha kecil perempuan, lebih terjamin daripada pemberian modal
dari bank-bank konvensional, kepada para nasabahnya yang rata-rata pengusaha-pengusaha
kelas menengah ke atas.
Pemberdayaan yang ditujukan kepada kaum ibu,
juga dapat memenuhi jiwa ‘kemanusiaan’, karena sesuai fitrah kita yang diberikan nurani, juga karena anjuran agama,
tentang mengutamakan hak-hak kaum lemah, dan mengeluarkan kaum mustadh’afin menuju ke keadaan yang
lebih baik.
Langganan:
Postingan (Atom)



